Pemda Teluk Bintuni Dorong Pemanfaatan Pangan Lokal Dalam Pelaksanaan MBG

Nampak Plt. Sekretaris Daerah Farmasi Nicolas Awak hendak memanen Padi Sawah. (Foto/Susi)
BINTUNI, SuaraTeluk.com – Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni terus mendorong petani lokal untuk memasok beras untuk kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan Presiden RI Prabowo Subianto. Sabtu (13/9/2025).
Sebab program ini dinilai mampu membuka pasar baru sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani daerah.
Dapur MBG di Teluk Bintuni diketahui telah memanfaatkan beras hasil panen petani untuk menu harian. Dalam satu bulan, kebutuhan beras mencapai 8 ton.
Kepala Seksi Perbenihan dan Perlindungan Tanaman Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian, Ivang Manibuy, mengatakan dapur MBG menjalin kerja sama langsung dengan petani. Dinas pertanian berperan sebagai perantara untuk membantu pemasaran hasil panen.

Kepala Seksi Perbenihan dan Perlindungan Tanaman Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian, Ivang Manibuy. (Foto/Susi)
“Selama ini petani menanam banyak tapi kesulitan menjual hasilnya. Dengan adanya MBG, panen bisa terserap sehingga petani lebih termotivasi menanam,” kata Ivang.
Wakil Ketua Komisi B DPRK Teluk Bintuni, Wagiman, menilai MBG menjadi peluang bisnis baru bagi petani. Sehingga ia berharap pemerintah daerah tetap aktif mendampingi petani agar produksi padi meningkat.
“MBG hadir untuk menyerap hasil panen petani lokal. Kalau produksi bagus dan pasar bergairah, kesejahteraan petani juga ikut meningkat,” kata Wagiman
Kendati demikian, sejumlah kendala masih dihadapi petani, mulai dari kerusakan irigasi hingga serangan hama wereng. Wagiman mengaku telah meninjau langsung ke bendungan irigasi dan menemukan sedimentasi yang menumpuk sehingga aliran air berkurang.
Ia meminta normalisasi segera dilakukan agar pasokan air sawah tidak terganggu.
Sementara itu, Ketua Gapoktan Jaya Makmur, Sairin, menyebut serangan hama wereng sering menyebabkan tanaman padi rusak bahkan gagal panen.
“Kalau sudah kena wereng, tanaman langsung gosong dan sulit diatasi,” ujarnya
Menanggapi hal tersebut, Dinas Pertanian Teluk Bintuni berencana membentuk brigade pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) serta mengaktifkan kembali regu pengendalian hama dan penyakit.
“Untuk itu kami membutuhkan dukungan anggaran yang memadai,” ujar Ivang Manibuy. (Susi)
