Plt.Sekda Buka Rapat Koordinasi TPPS Kabupaten Teluk Bintuni Tahun 2025

Plt. Senda Teluk Bintuni Frans N Awak membuka Rakor TPPS dengan menabuh tipa. (Foto/Susi)
BINTUNI, SuaraTeluk.com – Tim percepatan penurunan stunting (TPPS) Kabupaten Teluk Bintuni yang di fasilitasi oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) bersama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah ( Bapedda) Teluk Bintuni melaksanakan Rapat Koordinasi TPPS tingkat Kabupaten Tahun 2025. Jumat (12/9/2025).
Rakor ini di buka oleh Plt. Sekretaris Daerah Teluk Bintuni, Frans N Awak, menyampaikan sebagaimana diketahui bersama stunting merupakan persoalan kondisi gagal tumbuh yang di akibatkan oleh kekurangan gizi kronis pada anak. Menurutnya, anak mengalami stunting tidak hanya terganggu fisiknya, tetapi juga resiko memiliki perkembangan kognitif yang rendah.
Disampaikan Plt. Sekda bahwa produktivitas yang menurun serta rentan terhadap penyakit kronis saat dewasa. Namun demikian, perlu disadari bahwa penyakit ini berakar dan berangkat dari berbagai faktor, seperti akses pelayanan kesehatan, sanitasi, pola asuh, hingga tingkat pendidikan dan kesejahteraan keluarga.
Stunting bukan lagi sekadar masalah kesehatan, tetapi merupakan ancaman serius terhadap masa depan anak-anakdan kelangsungan pertumbuhan suatu bangsa. Menurut Awak hal ini adalah persoalan strategis yang menyangkut kualitas generasi penerus dan daya saing bangsa di masa depan, terutama dalam mewujudkan visi Indonesia Emas tahun 2045. Ujar Plt Sekda.

Foto bersama Tim Percepatan Penurunan Stunting Tahun 2025 dengan gaya Tolak Stunting. (Foto/Susi)
Dalam UUD Negara RI tahun 1945 menegaskan bahwa setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Olehnya itu, negara dan pemerintah daerah berkewajiban memberikan perlindungan optimal sejak masa 1.000 hari pertama kehidupan. Ujar Awak.
Sementara Plt. Bappelitbangda, Rifaldhi Kwando mengatakan rapat Koordinasi TPPS tingkat Kabupaten Teluk Bintuni menjadi sangat mendesak dan penting untuk memastikan percepatan penanganan masalah stunting di Teluk Bintuni akan dapat di tangani secara Komprensip, terintegrasi dan berbasis pada akurasi data serta intervensi yang tepat sasaran.
Rifaldhi menyampaikan berdasarkan data terakhir, angka prevalensi stunting di Kabupaten Teluk Bintuni pada akhir tahun 2024 berhasil turun menjadi 19,6%, dari sebelumnya 22,8%. Menurutnya penurunan stunting sebesar 3,2% poin ini bukan hanya signifikan, tetapi juga menempatkan Teluk Bintuni sebagai Kabupaten dengan penurunan prevalensi stunting tertinggi di wilayah Provinsi Papua Barat. Ujarnya
Dikatakannya bahwa capaian ini merupakan buah dari kerja keras semua pihak, baik OPD, Tenaga Kesehatan,, Kader dilapangan, dukungan legislatif dan keterlibatan masyarakat luas.
“Saya apresiasi atas sinergi yang telah di bangun selama ini,” Ujar Rifaldhi.
Kendati itu, ia menyampaikan tim jangan berpuas diri, dikarenakan penurunan stunting ini harus di jaga, di pertahankan, didorong agar tetap stabil di bawah angka prevalensi kronis, yakni 20% sebagaimana ditetapkan dalam target nasional.
Oleh karena itu, rakor ini di selenggarakan dengan agenda utama pemaparan juknis aksi konvergensi stunting untuk meningkatkan koordinasi lintas sektor, memperkuat komitmen, menyamakan langkah, untuk memastikan bahwa seluruh pemangku kepentingan di daerah bergerak secara sinergis, terukur dan berorientasi pada hasil. Tambah Rifaldhi
Ia mengatakan Pemkab Teluk Bintuni telah menempatkan isu stunting sebagai prioritas utama dalam agenda pembangunan daerah, sejalan dengan amanat peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang percepatan penurunan stunting. Mengingat stunting sifatnya yang multidimensional dan multisektoral, maka hanya dengan koordinasi yang solid, intervensi yang terencana serta komitmen yang kuat dari seluruh jajaran. Sehingga dapat memutus mata rantai stunting secara berkelanjutan.
Kiranya pelaksanaan Rakor PPS ini juga merupakan bagian integral dari upaya mewujudkan visi pembangunan daerah Teluk Bintuni yang sehat, enerjik, religius, andal, smart dan inovatif (SERASI). (Susi)
