YONIF 763/SBA Menghadirkan Pemateri Dari Dinkes Bintuni Dalam Penyuluhan Program SDIDTK
BINTUNI,suarateluk.com – Sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan diri sendiri dan keluarga, Yonif 763/SBA melaksanakan penyuluhan tentang program Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi tumbuh kembang anak dan hidup sehat tanpa asap rokok. Sabtu (3/2/2024)
Untuk menciptakan keluarga sehat dan berdaya saing di masa depan. Danyonif 763/SBA menghadirkan dr. Wiendo Syahputra Yahya, Sp.P, FAPSR, FISR untuk memberikan penyuluhan tentang hidup sehat tanpa asap rokok, dan dr. Rafiqa Rais Akbar, Sp.A yang memberikan materi tentang penyuluhan tentang Stimulasi, Deteksi dan Intervensi tumbuh kembang anak sejak dini.
Dengan adanya Program Stimulasi, deteksi, dan Intervensi Tumbuh Kembang Anak Sejak dini (SDIDTK) merupakan program pembinaan tumbuh kembang terhadap anak secara komprehensif dan berkualitas melalui kegiatan stimulasi, deteksi dan intervensi dini. Ini penyimpangan tumbuh kembang pada masa pertumbuhan anak sangat perlu diperhatikan guna mencegah permasalahan pada tumbuh kembang anak.
Hal ini bertujuan untuk memastikan tumbuh kembang anak agar berjalan dengan sehat dan normal serta terhindar dari stunting. Letkol inf Imam Purwoko S.E. M.H.I. menegaskan bahwa sebagai Prajurit Yonif 763/SBA harus memahami segala jenis Stimulasi, Deteksi dan Intervensi pada tumbuh kembang anak agar terciptanya keluarga sehat dan sejahtera.
Selain dilaksanakan penyuluhan tentang hidup bebas tanpa asap rokok. Merokok merupakan penyebab kematian dini yang dapat dicegah. Perokok memiliki risiko tinggi untuk berkembang menjadi penyakit kronis. Seperti aterosklerosis, penumpukan lemak pada pembuluh darah arteri yang dapat mengakibatkan penyakit jantung koroner, serangan jantung dan stroke.
Tujuan diadakan sosialisasi ini agar Prajurit Yonif 763/SBA sadar akan bahaya merokok yang dapat merugikan diri sendiri serta keluarga. Ujar Danyonif Imam Purwoko
Sementara dr. Wiendo Syahputra Yahya, Sp.P, FAPSR, FISR, menjelaskan merokok penyebab kematian dini yang dapat di cegah, perokok memiliki resiko tinggi untuk berkembang menjadi penyakit kronis seperti aterosklerosis, penumpukan lemak dan pembulu darah arteri yang dapat mengakibatkan penyakit jantung koroner, serangan jantung dan stroke.
Dijelaskan dr. Wiendo Syahputra Yahya tentang bahaya merokok, rokok mengandung 4000 bahan kimia, 200 di antaranya beracun, dan 43 penyebab kanker, racun pada rokok adalah nikotin. Tar adalah substansi hidrokarbon yang lengket dan menempel pada paru-paru dan karbon monoksida adalah zat yang mengikat hemoglobin dalam darah sehingga membuat darah tidak mampu mengikat oksigen.
Adapun dampak pada rokok di bagi menjadi 2 yakni merokok jangka pendek dapat membayakan hampir semua organ tubuh dan akan menimbulkan berbagai penyakit, mempengaruhi kesehatan perokok secay umum. Sementara jangka panjangnya dapat membunuh dengan perlahan tanpa di sadari, seluruh dokter di dunia bersepakat mengatakan rokok itu haram dan berbahaya untuk kesehatan.
“Saat ini hampir semua negara di dunia mewajibkan pemasangan peringatan bergambar pada bungkusan rokok, termasuk Indonesia. Peringatan pada bergambar pada bungkus rokok adalah sarana efektif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya rokok,”
Ditempat yang sama dr. Rafiqa Rais Akbar, Sp.A mengatakan pentingnya kesehatan pada pertumbuhan anak dengan kalsium, dikarenakan kalsium merupakan mineral penting yang di butuhkan untuk mendukung tumbuh kembang si kecil, khususnya pertumbuhan tukang dan gigi, serta mendukung sistem peredaran darah, fungsi otot, dan jaringan lain, dan untuk anak usia 1-3 tahun, kebutuhan kalsium anak per hari sebanyak 700mg.
Timbuh kembang anak juga membutuhkan zat besi untuk membantu sel darah merah menyuplai oksigen ke seluruh tubuh, anak anak membutuhkan sekitat 7-10 mg zat besi setiap harinya. Jika anak kekurangan zat besi maka mengakibatkan anemia, mempengaruhi sistem imunitas tubuh anak dan perkembangan pada otak, maka penuhi kebutuhan zat besi anak dengan menyajikan kacang kacangan, buncis, kacang polong dan kedelai tinggi akan zat besi, ujar dr. Rafika Rais Akbar.
(Susi)
