SMP Negeri Terpadu Bintuni Gelar UAS Hari Kedua Berjalan Lancar

Nampak Siswa-Siswi SMP Negeri Terpadu serius mengerjakan soal ujian
BINTUNI,SuaraTeluk.com – Sebanyak 135 siswa-siswi di SMP Negeri Terpadu Teluk Bintuni mengikuti Ujian Akhir Sekolah tahun Pelajaran 2024 bagi pelajar Tingkat sekolah menengah pertama (SMP), ujian berlangsung sejak senin 13 Mei 2024 sampai dengan 17 Mei 2024, Senin (14/5/2024).
Pelaksanaan Ujian Sekolah untuk penilaian akhir semester yang diikuti 135 siswa-siswi SMP Negeri Tepadu hari pertama dan ke dua berjalan aman dan lancar.
Kepala Sekolah SMP Negeri Terpadu Teluk Bintuni, Godefridus Payung mengatakan UAS kali ini berbasis IT, sebelumnya ujian berbasis IT di lakasanakan namun setelah pandemi covid sudah mempunyai kebijakan. Sehingga menteri Nadin Makarim mengeluarkan beberapa kebijakan penuh kepada pihak penyelenggara sekolah untuk UAS kepada semua jenjang SD,SMP,SMA dan SMK.

Kepala sekolah SMP Negeri Terpadu, Godefridus Payung
Kepsek Godefridus Payung menyampaikan pelaksanaan ujian berbasis IT namun bukan online tetapi soal ujian di buat oleh pihak guru sendiri melalui google Chrome, jumlah peserta ujian yang mengikuti UAS sebanyak 135 peserta didik di bagi dalam 5 kelas.
Dikatakan Godefridus bahwa mata pelajaran yang di ujiankan yaitu, pendidikan Agama Islam, Agama Katolik, Agama Kristen, PKN, Moral Pancasila, Matematika, Bahasa Inggris,Bahasa Indonesia, IPA,IPS, PJOK,Penjaskes, Seni Budaya, Prakarya.
Lebih lanjut ia mengatakan dalam UAS tersebut dalam sehari dua mata pelajaran yang di ujikan, hari pertama ujian mata pelajaran yang di uji yaitu IPS dan Agama dan untuk ujian hari kedua ini yang di uji yakni IPA dan Bahasa Indonesia. Ujarnya.

Ia berharap kedepan tidak ada perubahan dari Kemendikbud riset, sehingga UAS dilakasakan seperti ini, dikarenakan ada sisi negatif dan positif, ia menjelaskan bagian sisi positifnya bahwa guru tidak mengalami stres menghadapi ujian nasional yang di buat standar, bukan bahwa pembelajaran di sekolah tidak terlaksana dengan baik akan tetapi kondisi anak-anak yang berbeda beda baik dari segi ekonomi maupun pendukung, hal ini semuanya itu sangat berpengaruh pada anak-anak yang menempuh pendidikan di masing-masing jenjang
sementara sisi negatifnya adalah jika pelakasaan ujian berbasis online membuat para guru stres dikarenakan jaringan yang tidak stabil membuat para guru harus panjat memanjat untuk mendapatkan jaringan, Godefridus menambahkan pihak sekolah bahkan mengeluarkan alat untuk mendapatkan jaringan namun hasilnya nihil,sehingga membuat para guru stres.
Kendati itu, ia mengatakan dengan adanya kebijakan dari Kemendikbud riset Nadin Makarim memberikan kewenagan kepada pihak sekolah untuk menyusun soal ujian sendiri serta menyelenggarakan ujian pada masing- masing sekolah. Ujar Godefridus. (Susi)
