Mewakili Indonesia, Dua Guru Papua Barat Berpartisipasi di Forum Pemuda Dunia di New York Amerika Serikat

BINTUNI, SuaraTeluk.com – Dua guru dari sekolah terpencil, satu SMP dan satu SD, mendapatkan beasiswa untuk belajar di New York. Beasiswa ini diberikan melalui program The Youth Assembly ke 30 dan Global Educators Academy AFS Intercultural Programs
Program beasiswa ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di daerah terpencil, perwakilan guru SMP Terpadu Bintuni yang mendapatkan beasiswa yakni Dewi Fahriah Akib (33) dan Perwakilan guru SD Inpres Tomu, Furdan Kinder (23). Ujar Dewi.
Tujuan program untuk mengikuti ke 30 Session of the Youth Assembly dengan tema “Defying Adversity: Empowering Young Global Citizens to Lead” pada 7–10 Agustus 2025 di New York City, USA. Kegiatan ini merupakan bagian dari program AFS intercultural program yang salah satu kategori khusus yaitu Global Educator academy. Ujarnya
Program ini yang mempertemukan para pendidik dari berbagai negara untuk mengikuti pembelajaran interaktif, membangun jejaring internasional, mengembangkan kompetensi global, dan memimpin aksi positif di komunitas masing-masing. Tambahnya
Pada program beasiswa ini terdapat 140 penerima beasiswa dari 54 negara yang seluruh biaya partisipasinya ditanggung oleh BP (British Petroleum). Dari jumlah tersebut, hanya dua guru dari Indonesia yang terpilih, yaitu Dewi Fahriah Akib (33) dan Furdan Kinder (23), bersama dengan pendidik lain dari seluruh dunia.
Acara puncak Youth Assembly ini dihadiri oleh sekitar 500 peserta dari 100 negara yang berpartisipasi langsung di New York University, Kimmel Center sebagai wadah utama pertukaran ide, kolaborasi lintas budaya, dan penguatan kepemimpinan global. Ujar Dewi
Dewi mendapatkan informasi beasiswa ini direkomendasikan oleh fasilitator di masing-masing daerah, kemudian mengikuti seleksi yang ketat mulai dari tingkat provinsi, berlanjut ke tingkat nasional, hingga akhirnya lolos seleksi internasional.
Sedangkan Furdan merupakan penerima beasiswa afirmasi yang dikhususkan untuk IP (Indigenous People/Orang Asli Papua) namun tetap melalui serangkaian seleksi yang ketat pula.
Untuk berapa lama persiapan sebelum berangkat dewi mengatakan kurang lebih sejak bulan April, dimulai dengan pengurusan paspor, kemudian dilanjutkan dengan pengurusan visa di Jakarta.
Visa Amerika Serikat ini cukup sulit untuk didapatkan, dan meskipun sudah lolos beasiswa, jika tidak mendapatkan visa dalam batas waktu yang ditentukan maka beasiswa akan dibatalkan. Ujar Dewi
“Alhamdulillah, pada bulan Mei visa kami disetujui. Setelah itu kami mengikuti pembekalan selama 1 bulan secara daring,” Ucap Dewi
Dikatakan Dewi bahwa kegiatan ini berlangsung sejak 7 hingga 11 Agustus 2025. Negara yang mengikuti acara tersebut kurang lebih 100 negara.
Harapannya kedepan adalah dapat menginspirasi rekan-rekan guru di Indonesia serta murid-murid, khususnya generasi Sisar Matiti, bahwa tak ada mimpi yang terlalu jauh, tak ada suara yang terlalu kecil, dan tak ada tantangan yang terlalu besar untuk dihadapi. Keyakinan, doa, serta usaha akan membawamu melihat dunia yang luas dan menyaksikan impianmu menjadi kenyataan. (rls)
