GOW Teluk Bintuni Gelar Pelatihan Pengolahan Pangan Lokal Bernilai Ekonomi

Nampak mama-mama Papua antusias olah pangan lokal. (Foto/Susi)
BINTUNI, SuaraTeluk.com – Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Teluk Bintuni gandeng Dinas Pertanian adakan pelatihan Pengelolaan Pangan Lokal bagi mama-mama asli Papua. Kegiatan berlangsung di balai kampung Korano Jaya, SP 2 Distrik Manimeri. Rabu (3/12/2025).
Ketua GOW Teluk Bintuni, Nurdiana Lingara menyampaikan bahwa usai di lantik GOW Teluk Bintuni, ini adalah kali pertama GOW adakan pelatihan pengelolaan pengan lokal berkolaborasi dengan Dinas Pertanian. Ujarnya
Tujuan dari pelatihan ini untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada masyarakat terkait pengolahan pangan lokal agar dapat memberikan nilai tambah bagi rumah tangga maupun kelompok usaha. Ujar Nurdiana
Nurdiana mengtakan pelatihan ini merupakan komitmen bersama GOW dan Dinas Pertanian Teluk Bintuni. Menurutnya, wilayah Teluk Bintuni kaya akan bahan pangan lokal yang bisa di kelola untuk menekan nilai pengeluaran bagi masyarakat OAP.

Dengan telaten Ketua GOW Teluk Bintuni, Nurdiana Lingara hendak membuat olahan pangan lokal keladi. (Foto/Susi)
“Di banyak singkong, keladi, petatas, sagu dan umbi-umbian lainnya yang bisa di kelolah dengan kreativitas nilai tambah,” Ujar Ketua GOW
Nurdiana Lingara saat memberikan sambutannya
Kendati itu, Nurdiana menyampaikan melalui pelatihan ini GOW bersama Dinas Pertanian berharap bisa mengelola pangan lokal menjadi lebih bernilai. Ujarnya
Marlina Rumadas salah satu peserta pelatihan mengatakan untuk pelatihan ini sangat membantu dalam menambah pengalaman dan pengetahuan baru baginya. Dikarenakan pelatihan ini secara langsung di praktek untuk pembuatan olahan umbi-umbian.
“Kita langsung praktek bahan pangan lokal, ternyata mudah dan menyenangkan,” Ujar Marlina
Sementara Ari Murti perwakilan dari Dinas Pertanian menyampaikan untuk pemenuhan kebutuhan pangan di Kabupaten Teluk Bintuni, salah satunya adalah singkong. menurutnya, pemanfaatan singkong sebagai sumber pangan dapat di rebus, dibakar, digoreng ataupun olahan lain.
Olehnya itu, perlu dilakukan pengolahan untuk memperpanjang umur simpan simpan. Diantaranya, membuat beras analog dengan berbahan dasar singkong/Kasbi. Ujarnya

salah satu pangan lokal yakni beras analog yang terbuat dari singkong/Kasbi.
Dijelaskan Ari bahwa beras analog merupakan makanan yang diperoleh dengan proses fermentasi singkong/kasbi. Kelebihan beras iyek adalah mempunyai prebiotik yang baik untuk tubuh, namun kekurangan beras oyek adalah kurangnya kandungan makronutrien yaitu protein, bau yang kurang sedap serta warna yang kusam. (Susi)
