Pemkab Bintuni dan Universitas Padjadjaran Perkuat Kolaborasi Susun Kajian Strategis Penanggulangan TB, HIV, TORCH, dan Helminthiasis

BINTUNI, SuaraTeluk.com – Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni bersama Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung memulai langkah strategis dalam memperkuat upaya penanggulangan penyakit menular melalui penyusunan kajian komprehensif Tuberkulosis (TB), HIV, TORCH, dan Helminthiasis.
Langkah tersebut diawali dengan pertemuan lintas sektor yang berlangsung di Aula Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Bintuni, Senin (3/8/2026). Pertemuan ini menjadi titik awal penyusunan kajian berbasis data yang akan menjadi landasan dalam merumuskan kebijakan, strategi, dan program kesehatan yang lebih terarah, terukur, serta mampu menjawab tantangan kesehatan masyarakat di Kabupaten Teluk Bintuni.
Dalam pertemuan tersebut dihadiri Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Bintuni, Yohanis R Manobi beserta jajaran, Plt. Direktur RSUD Bintuni dr. Novita Panggau, Sp.PD., M.MRS., FINASIM, Kepala Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Dr. Henry D. Kapuangan, S.IP., S.Pd., M.M., Staf Ahli Bidang Kesehatan dr. Andreas Ciokan, serta Tim Kajian RC3ID Universitas Padjadjaran yang dipimpin Prof. dr. Bachti Alisjahbana, Sp.PD-KPTI., Ph.D.
Dalam sambutannya, Bupati Teluk Bintuni Yohanis Manibuy, S.E., M.H., menegaskan bahwa kehadiran tim Universitas Padjadjaran merupakan kesempatan berharga untuk memperoleh masukan ilmiah dan rekomendasi strategis yang akan memperkuat arah pembangunan sektor kesehatan di Teluk Bintuni.Menurut Bupati, hasil kajian tersebut diharapkan menjadi pijakan dalam penyusunan berbagai program prioritas, baik melalui APBD Perubahan maupun APBD tahun anggaran berikutnya, khususnya dalam pengendalian TB, HIV, TORCH, dan penyakit menular lainnya.
Bupati juga mengajak seluruh tenaga kesehatan dan perangkat daerah untuk terus memperkuat kolaborasi lintas sektor. Menurutnya, keberhasilan pembangunan kesehatan tidak hanya bergantung pada pelayanan medis semata, tetapi juga ditentukan oleh sinergi seluruh elemen pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang sehat dan berkualitas.
Sementara itu, Ketua Tim Kajian RC3ID Universitas Padjadjaran, Prof. dr. Bachti Alisjahbana, Sp.PD-KPTI., Ph.D., menjelaskan bahwa Tuberkulosis dan HIV masih menjadi tantangan besar kesehatan masyarakat yang memperoleh perhatian serius pemerintah pusat. Program eliminasi TB, kata dia, merupakan salah satu prioritas nasional pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Ia mengungkapkan bahwa Papua, termasuk Kabupaten Teluk Bintuni, memiliki karakteristik epidemiologi yang menunjukkan keterkaitan erat antara kasus TB dan HIV. Karena itu, kedua penyakit tersebut harus ditangani secara terpadu melalui pendekatan yang komprehensif.
Ia berharap Teluk Bintuni dapat berkembang menjadi salah satu daerah percontohan dalam pengelolaan dan pengendalian TB serta HIV di Indonesia melalui penguatan sistem pelayanan kesehatan, peningkatan kualitas data, serta kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan.Hasil asesmen tersebut akan digunakan untuk mengidentifikasi tantangan di lapangan sekaligus menyusun rekomendasi berbasis bukti sebagai dasar penyusunan rencana tindak lanjut dan penguatan program kesehatan pada tahun anggaran mendatang.
Prof. Bachti menegaskan bahwa pengendalian TB dan HIV bukan semata menjadi tanggung jawab sektor kesehatan. Keberhasilannya sangat bergantung pada keterlibatan berbagai pihak, mulai dari Dinas Sosial, Dinas Pendidikan, pemerintah distrik dan kampung, hingga dunia usaha.
Menurutnya, faktor mobilitas penduduk, kepadatan permukiman, urbanisasi, serta kondisi sosial ekonomi masyarakat turut memengaruhi penyebaran penyakit. Oleh sebab itu, diperlukan sinergi yang kuat agar setiap pasien yang terdeteksi dapat memperoleh pendampingan hingga menyelesaikan pengobatan secara tuntas, sehingga rantai penularan dapat diputus.Pada akhir rangkaian kegiatan, Tim Kajian RC3ID Universitas Padjadjaran dijadwalkan memaparkan hasil sementara asesmen beserta rekomendasi strategis kepada Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni.
Tim juga akan menjajaki peluang kolaborasi dengan dunia usaha melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) guna memperkuat upaya penanggulangan TB, HIV, TORCH, dan Helminthiasis.Melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, akademisi, tenaga kesehatan, dunia usaha, dan masyarakat, Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni optimistis dapat membangun sistem kesehatan yang semakin tangguh, adaptif, dan berkelanjutan.
Upaya ini sekaligus menjadi bagian dari komitmen mewujudkan visi SERASI dengan menghadirkan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan merata bagi seluruh masyarakat Teluk Bintuni. (Susi)
