Deteksi Dini Kanker Payudra, RSUD Teluk Bintuni Gelar Skrining Mamografi Kanker Payudra

Direktur RSUD Teluk Bintuni, dr. Novita Panggau saat berpose bersama tim dokter dan peserta skrining kanker payudra. (Foto/Susi)
BINTUNI, SuaraTeluk.com – Dalam upaya meningkatkan kewaspadaan dan deteksi dini terhadap kanker payudara, Rumah Sakit Umum Daerah Teluk Bintuni dan Ikatan dokter Indonesia melaksanakan kegiatan Skrining Mamografi Kanker Payudra, giat yang berlangsung di ruang Medical Check Up (MCU). Sabtu (6/6/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya promotif dan preventif untuk menekan angka kejadian kanker payudra. Skrining kanker payuda ini mengusung tema ” Kami Berjuang Kami kuat, kami tidak sendiri,”.
Perlu di ketahui bahwa saat ini jumlah kasus kanker payudara di Teluk Bintuni tercatat ada sebanyak 100 kasus kanker payudara yang diperiksa di RSUD Teluk Bintuni, dengan 30 kasus terkonfirmasi sebagai kanker ganas.
Direktur RSUD Teluk Bintuni, dr. Novita Panggau, mengatakan kegiatan pemeriksaan ini merupakan bentuk kolaborasi antara IDI dan Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini kanker payudara.

Direktur RSUD Teluk Bintuni, dokter Novita Panggau saat memberikan sambutan di acara pembukaan Skrining Mamografi kanker payudara (foto/Susi)
Ia mengatakan dari Januari hingga Mei 2026, ada sekitar 100 pasien yang datang dengan keluhan benjolan pada payudara. Setelah dilakukan pemeriksaan lanjutan, 30 orang di antaranya terkonfirmasi mengalami kanker ganas. Tentu ini menjadi perhatian dan keprihatinan bersama, ujar dr. Novita kepada media ini
Menurutnya, deteksi dini menjadi kunci utama dalam meningkatkan peluang kesembuhan pasien kanker payudara. Jika kanker payudara ditemukan sejak dini, tingkat kesembuhannya cukup baik.
Sebaliknya, jika sudah memasuki stadium lanjut dan menyebar ke organ lain, penanganannya menjadi jauh lebih sulit meskipun sudah dilakukan operasi maupun kemoterapi, ujar dr. Novita. Sembari ia menjalesakan bahwa data tersebut terungkap dalam kegiatan pemeriksaan kanker payudara yang digelar dalam rangka memperingati Hari Bakti Ikatan Dokter Indonesia (IDI) ke-118 dan Hari Ulang Tahun Kabupaten Teluk Bintuni ke-23.
Sementara dokter Spesialis Radiologi RSUD Teluk Bintuni, dr. Ariani Asnur, mengatakan saat ini jumlah kasus yang ditemukan cukup tinggi, meskipun sebagian besar masih tergolong jinak.

Nampak dr. Spesialis Radiologi RSUD Teluk Bintuni, dr. Ariani Asnur hendak melakukan pemeriksaan terhadap salah satu pesien. (Foto/Susi)
Untuk tahun 2026 ini sudah ditemukan 100 kasus. Dari jumlah tersebut, sekira 70 kasus bersifat jinak dan 30 kasus merupakan kanker ganas. Menurutnya, angka tersebut cukup banyak, namun di sisi lain hal ini menunjukkan masyarakat mulai sadar untuk memeriksakan diri, ujar Ariani
Kendati itu, Ariani mengatakan sebagian besar pasien kanker payudara yang datang berobat masih ditemukan dalam kondisi stadium lanjut. Hal tersebut terjadi karena banyak pasien menunda pemeriksaan akibat rasa takut.
Dari hasil wawancara dengan pasien, kebanyakan mereka takut sehingga menunda pemeriksaan. Biasanya mereka baru datang ketika sudah tidak sanggup menahan rasa sakit. Padahal jika ditemukan lebih awal, peluang kesembuhannya jauh lebih besar, ujarnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, beberapa pasien yang telah menjalani kemoterapi menunjukkan perkembangan baik karena disiplin menjalani kontrol rutin setiap tiga bulan sekali. Sekarang kesadaran masyarakat Teluk Bintuni sudah cukup baik.
Namun masih ada kendala geografis karena sebagian pasien tinggal di kampung-kampung yang harus ditempuh melalui jalur pesisir maupun pegunungan, sehingga akses layanan kesehatan menjadi tantangan tersendiri, ujar Ariani.
Ariani mengatakan, kasus kanker payudara ditemukan pada perempuan usia produktif yang masih mengalami menstruasi maupun yang telah memasuki masa menopause. Faktor penyebabnya antara lain keturunan, usia, dan pengaruh hormon. (Susi)
