RSUD Bintuni Mendata Pasien Gagal Ginjal Tahun 2026, Dari 35 Hari 7 Pasien Membutuhkan Cuci Darah

Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Teluk Bintuni, dr. Novita Panggau, saat memberikan sambutan. (Foto/Susi)
BINTUNI, SuaraTeluk.com – Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Teluk Bintuni, dr. Novita Panggau mengatakan kasus gagal ginjal kronis sampai saat ini cukup tinggi. Tingginya kasus gagal ginjal ini sebagian besar banyak yang telah meninggal dunia. Senin (9/3/2026).
Dalam penjelasan dr. Novita bahwa kunjungan pasien gagal ginjal di tahun 2025 di RSUD Teluk Bintuni sebanyak 48 kasus. Dari total 48 ini sebagian besar ada yang meninggal dunia, sebagian besar yang dirujuk ke luar daerah dan sampai saat ini belum kembali, karena belum ada fasilitas di RSUD.
“Sebagian juga kami rujuk ke provinsi di Manokwari, karena itu unit Dialisis untuk layanan cuci darah yang paling dekat,” Kata Novita.
Novita beruarai bahwa pada awal Februari 2026, rumah sakit coba mendata pasien gagal ginjal, hanya 35 hari di awal tahun ini sudah ada 7 pasien gagal ginjal stadium akhir yang membutuhkan cuci darah. Sebagian di antaranya sudah meninggal, satu orang di rujuk di Provinsi dan satu lagi di rujuk ke luar Papua.
Dijelaskan, rujukan pasien ginjal kronis ini dilakukan jika pasien mau, karena sebagian besar menolak untuk dirujuk. Penyebabnya karena layanan Dialisis ini berkelanjutan sehingga biayanya sangat besar.
Dengan adanya fakta ini, menunjukan bahwa urgensi percepatan layanan Dialisis sangat dibutuhkan. Oleh karena itu RSUD Bintuni sangat mendorong dan komitmen untuk layanan Dialisis bisa segera beroperasi.
Dengan adanya visitasi atau pemeriksaan lapangan unit Dialisis di Teluk Bintuni diharapkan unit Dialisis ini segera dapat dibuka untuk melayani kebutuhan masyarakat. (Susi)
