Berlangsung Khidmat, Pemkab Bintuni Gelar Upacara Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia

Bupati Yohanis Manibuy, SE., MH., pimpin upacara Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2025.
BINTUNI, SuaraTeluk.com – Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni menggelar upacara memperingati Hari Lingkungan Hidup Tahun 2025. Ya g berlangsung di alun-alun SP5 Argosigemerai.

Upacara ini di pimpin langsung oleh Bupati Teluk Bintuni, Yohanis Manibuy, SE. MH., dan di hadiri oleh pimpinan OPD dan Forkopomda.
Bupati dalam sambutannya menyampaikan bahwa hari ini kita memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2025. Momen ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan panggilan moral, seruan aksi kolektif, dan momentum penyadaran bersama.
Demikian pula tema tahun ini, “Hentikan Polusi Plastik”, bukan sekadar slogan. Ini wujud tanggung jawab bersama menjawab tantangan utama ancaman planet yang meliputi perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati dan polusi. Ketiganya saling berkaitan, dan polusi plastik adalah simbol sekaligus akibat dari cara hidup yang tak berkelanjutan.
Bupati menjelaskan Polusi plastik adalah bom waktu ekologis. Hari ini, dunia memproduksi lebih dari 400 juta ton plastik setiap tahun, namun hanya kurang dari 10% yang berhasil didaur ulang. Sisanya mencemari tanah, sungai, dan laut, dimana mengakibatkan ekosistem laut rusak, biota laut terancam, nelayan kehilangan sumber penghidupan, serta sector pariwisata yang menurun.
Bahkan dampak polusi plastik ini telah terdeteksi dalam rantai makanan manusia, di dalam air minum, garam, bahkan tubuh manusia. Di Indonesia, situasinya tak kalah memprihatinkan.
Pada tahun 2023, total timbunan sampah mencapai 56,6 juta ton dan hampir 20 persennya adalah sampah plastik. Ironisnya, hanya sepertiga daripadanya yang terkelola secara layak, sementara sisanya berakhir di TPA, dibakar terbuka, atau mencemari lingkungan. Tanpa upaya luar biasa, pada tahun 2028 seluruh TPA di Indonesia akan penuh dan tidak lagi mampu menampung sampah.
Untuk mengatasi hal tersebut, Pemerintah Indonesia telah menegaskan target besar yaitu 100 persen pengelolaan sampah pada tahun 2029, yang pada implementasinya digerakkan melalui dua pendekatan, yakni hulu dan hilir. Di hilir, kami melarang TPA open dumping secara bertahap, membangun infrastruktur pengolahan di 33 kota besar dan memperkuat skema Extended Producer Resposibility (EPR) bagi produsen.
Sementara di hulu kami melarang impor scrap plastik, mendorong pembatasan plastik sekali pakai melalui perda-perda daerah, menggalakkan edukasi publik dan ekonomi sirkular, serta menyusun regulasi pelarangan produksi plastik sekali pakai yang sulit didaur ulang.
Untuk itu, kepada para Gubernur, Bupati dan Walikota, segera buat perda pelarangan plastik sekali pakai, bangun bank sampah dan fasilitas daur ulang local, usahakan mengurangi bahkan menghilangkan sampah ke TPA, dan jadikan sekolah, pasar, tempat ibadah dan kantor sebagai ruang edukasi hidup tanpa sampah.
Selanjutnya, dalam kesempatan ini, izinkan saya memberikan penghormatan dan apresiasi setinggi-tingginya kepada para penerima Penghargaan Kalpataru Tahun 2025. Kalian semua adalah teladan hidup, saksi dari dedikasi, konsistensi dan keberanian dalam menjaga bumi walau kadang tanpa sorotan dan tanpa insentif namun dengan penuh cinta dan tanggung jawab. Ujar Bupati
Kepada dunia usaha, saatnya berubah. Produksi dan konsumsi harus bertanggung jawab. Desain produk harus mudah diguna ulang, diisi ulang dan didaur ulang. Tidak ada lagi alasan untuk tetap memproduksi plastik yang tidak bias diolah. Dan kepada generasi muda, kalian adalah agen perubahan. Kalian adalah penentu arah sejarah.
Sehingga Bupati mengatakan jadilah pelopor gaya hidup minim plastik dengan cara membawa botol minum sendiri, tolak sedotan plastik, gunakan tas belanja sendiri, ajak teman-temanmu untuk mulai kelola sampah dan edukasi lingkungan melalui media social kalian.
Hari ini adalah panggilan, bukan hanya untuk sadar, tapi untuk bertindak bersama. Setiap langkah kecil, baik memilah sampah, menolak plastik sekali pakai dan memilih produk ramah lingkungan akan menciptakan gelombang perubahan besar, Bumi tidak membutuhkan kita.
“Kitalah yang membutuhkan bumi. Mari kita wariskan alam yang bersih, bukan krisis yang ditinggalkan,” Ujar Bupati. (Susi)
