Harga Bawang dan Cabai Naik Signifikan dalam Sepekan

Harga komoditas dalam sepekan lonjakan harga sangat signifikan. (Foto/Susi
BINTUNI, SuaraTeluk.com – Lonjakan harga cabai dan bawang di pasar sentral Teluk Bintuni mengalami kenaikan cukup signifikan dalam sepekan terakhir. Kenaikan harga tersebut dikeluhkan masyarakat karena berdampak langsung pada kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
Saat dilakukan pemantauan di Pasar Sentral Teluk Bintuni pada Kamis, (18/62026) harga cabai rawit mencapai Rp.130 ribu per kilogram, naik dari harga sebelumnya Rp. 80 ribu per kilogram. Sementara itu, harga cabai keriting juga mengalami kenaikan dari Rp.60 ribu menjadi Rp.80 ribu per kilogram.Selain itu cabai lokal, cabai yang didatangkan dari luar daerah juga dijual dengan harga yang hampir sama, yakni Rp.130 ribu hingga Rp.140 ribu per kilogram.
Salah satu pedagang, Nor, mengatakan harga cabai lokal dan cabai dari luar Bintuni saat ini relatif sama. Menurutnya, pedagang lebih banyak membeli cabai dari petani lokal, namun ketika stok berkurang mereka terpaksa mendatangkan pasokan dari luar daerah dengan harga yang lebih tinggi.
“Kami biasanya membeli cabai dari masyarakat lokal di sini, tidak mengambil dari Manokwari,” ujar Nor.
Ditempat terpisah, Adam, mengatakan bahwa sebagian pedagang memilih membeli cabai dari Manokwari karena kualitasnya lebih tahan lama. Meski demikian, cabai lokal dinilai memiliki tingkat kepedasan yang lebih tinggi meskipun lebih cepat membusuk.
“Kalau cabai rawit, baik yang lokal maupun dari Manokwari, harganya sama-sama Rp.130 ribu per kilogram. Namun dari segi ketahanan, cabai dari Manokwari lebih awet,”ujarAdam.
Selain cabai, harga bawang merah juga mengalami kenaikan dari Rp.70 ribu menjadi Rp.80 ribu per kilogram. Sementara harga bawang putih masih bertahan di angka Rp.70 ribu per kilogram. Harga tomat pun ikut naik dari Rp. 28 ribu menjadi Rp40 ribu per kilogram.
Menurut Adam, kenaikan harga sejumlah komoditas tersebut dipengaruhi oleh keterlambatan pasokan barang dari luar daerah, terutama dari Manokwari dan Surabaya.
“Kalau kapal terlambat biasanya harga langsung naik karena stok barang berkurang. Pasokan dari Surabaya masuk melalui Manokwari. Kalau stok di Manokwari kosong, harga barang yang dikirim ke Bintuni juga ikut naik,” Ujarnya.
Meski harga terus meningkat, permintaan masyarakat terhadap cabai dan bawang masih tetap tinggi karena merupakan kebutuhan pokok dalam memasak.”Minat pembeli tetap ada. Barang seperti ini pasti tetap dibeli karena digunakan setiap hari, apalagi oleh pedagang makanan dan warung,” Ujar Adam.
Salah seorang konsumen, Neni, mengaku kenaikan harga cabai cukup memberatkan. Namun, ia tetap membeli cabai karena sudah menjadi kebutuhan yang sulit ditinggalkan.
“Kalau saya lebih memilih masak tanpa bawang daripada tanpa cabai. Jadi tetap beli meskipun sedikit-sedikit karena harganya mahal,” ujarnya sambil berbelanja di pasar.
Kenaikan harga cabai dan bawang yang telah berlangsung selama sekitar satu pekan ini diharapkan dapat segera teratasi melalui kelancaran distribusi pasokan, sehingga harga kembali stabil dan terjangkau bagi masyarakat. (Susi)
